Di ujung Jalan

Johan Edy Raharjo
http://sastra-indonesia.com

Kecipak air di kolam memecah sepi, Ujung daun palm itu tak bergerak lagi, tiupan angin semilir tak menghampiri. Hanya diam, bisu yang ada dalam kolam memetri. sesekali segerombol ikan nila, gurame, tombro muncul, berkejaran. Aku, sejak tadi hanya duduk di gubug yang mengambang di atas kolam. Pikirku menjauh menerobos mendung dilangit, Lima bulan lalu, bulan februari aku bersamanya. Al.. Alya Damayanty..
Makan sepiring berdua, sepotong ikan gurame bakar. Sepulang dari stasiun, saat Al pulang dari tasikmalaya, ku tunggu di emperan stasiun, semalam hingga pagi, kutunggu hingga aku menemu, walau aku sendiri, sepi, dingin yang merasuk. Aku tetap menunggu. aku dan Al tak langsung pulang, istirahat sambil melepas rindu, ya, kerinduan yang telah memuncak, kami curahkan diatas gubug dua kali tiga meter itu. Kini, hanya aku, hanya aku dan tas rangselku. Mengapung diatas kolam. Pikirku melayang, hadir sebuah impian yang pernah terucap bersama, dibawah rindangnya pohon chery. Impian itu, impian masing-masing, menyamakan impian bersama. Namun kini, Aku sendiri. Menunggu kabar darinya. Al akan hadir disini, seharusnya Al sudah ada disini. Namun hingga saat ini Al belum juga datang. Tapi tak mengapa. Sebuah cinta harus bisa memahami. Aku harus menunggu sampai urusannya selesai, tak mengapa walau jarak yang begitu jauh harus kulalui, hanya satu yang dapat mengobati kerinduanku selama ini, menemuinya, ya, menemuinya, memandang senyum bibirnya yang tipis, walau lelah seharian, aku tak peduli, walau hanya lima menit aku tak peduli, hanya satu yang dapat mengobati semua itu, ya, sebuah pertemuan walau pertemuan itu terbatas. Dan aku tau hal itu.

aku diam, saat Al datang, hanya senyum yang mewakili seluruh kerinduanku, Al duduk di sampingku, hanya beberapa kata diucapkan, selang beberapa waktu, entah berapa menit, mungkin sepuluh menit, bahkan bisa kurang, Al memohon diri, kembali ketempat kerja. “temui aku kalau masih ingin bertemu jam 20.30 nanti, aku saat ini sibuk,” itu yang kuterima darinya. Ya, aku tau itu, aku memahami, begitu ia sibuk, tak bisa diganggu. Seperti halnya aku, saat semua pekerjaan menuntut untuk segera diselesaikan, terkadang aku tak sempat menemuinya, dan itu sering kali kulakukan, mungkin kini Al begitu, begitu sibuknya hingga tak ada waktu untukku. Al pergi berlalu. Meninggalkanku di gubug apung diatas kolam. Aku termenung sendirian, akan kemana diriku. aku beranjak pergi, menepi segera, menuju masjid di pinggir jalan. Sambil menunggu bedug maghrib tiba. maghrib tiba, adzan menggema, seorang kakek tua menyodorkan segelas teh hangat kepadaku, mas, waktunya berbuka, segerakan untuk berbuka. Kata kakek itu, Kuamati kakek itu, segera kuterima segelas teh itu dan langsung ku teguk. rasa haus sejak tadi kini telah sirna dengan adanya teh manis pemberian kakek tadi, kakek itu segera masuk masjid, ku ikuti di belakangnya, membentuk barisan untuk menunaikan sholat maghrib. Usai maghrib, ku berjalan tanpa arah, mengelilingi kota, masuk ke gang, melewati taman makam pahlawan, menuju jalan sukarno hatta. Entah mau kemana, aku sendiri tak tau. Hanya tangan yang menggerakkan stir motorku. Sampai di jalan sukmawati, aku duduk di pinggir jalan, menikmati malam yang begitu dingin, sendiri, hanya kerlipan bintang, silau lampu kendaraan lalu lalang, ataupun sesekali pengamen datang. Lalu pergi. Perutku terasa sakit, aku lupa, saat berbuka tadi, hanya seteguk teh hangat yang kuterima dari kakek di masjid. Entah kenapa, sampai aku lupa untuk makan, mungkinkah karena kerinduanku telah memenuhi perutku hingga aku tak merasakan rasa lapar, ataukah mungkin aku memang tak lapar, atau pula teh pemberian kakek tadi teh yang bisa menunda rasa lapar dan dahaga, padahal aku berpuasa seharian. Ahh.. tau ahh. Tak aku pikir hal semacam itu, yang penting aku telah berbuka, walau hanya dengan secangkir teh hangat. Dalam hatiku hanya satu, aku ingin bertemu. Dan pulang. Pulang ke rumah nan jauh disana. Menunggu, ya.. sebagian orang menunggu itu hal yang membosankan, hal yang sangat dibenci, namun, bagiku, menunggu itu juga menyenangkan, menunggu mengukur seberapa tingkat kesabaran diriku. Memang sulit, sulit memang, jika belum terbiasa.

Kuterima pesan darinya,”aku sudah selesai, dimana”.
Segera ku balas, “ambil pesanan, tunggu”

Segera ku meluncur, lima menit aku sampai di depan kantor BNI, segera ku kirim pesan kepadanya “aku di depan BNI” ku tekan ok, tak lama kemudian ia datang, dibonceng teman kerjanya, seorang lelaki sedikit lebih tua dariku, segera Al berucap, banyak amat pesanannya. Enggak kok, Cuma sedikit aja, jawabku segera. Emm, kalau begitu, gek pulang saja, jawabnya singkat. aku terdiam. Al segera melaju perlahan meninggalkanku. Menghilang di keramaian malam, Hatiku sedikit berontak, Oh tuhan, tiga jam aku menunggu untuk bertemu selama tiga puluh detik?, salahkah diriku, aku segera melaju, menuju jalan gajahmada. Kearah barat, belok ke selatan, ku putar gas sedikit kencang, walau sebentar tak mengapa, walau hanya sekilas aku memandang telah mengobati rinduku. Dan kini di sisa waktuku di tengah malam, ku susuri sepinya jalan antar propinsi, melalui jalan lurus yang diapit pematang sawah nan luas, melalui jalan berkelok-kelok, pukul 23,05 aku masih melaju, sepinya jalan, meredupkan pandanganku, rasa nyaman memenuhi kepalaku, kantuk menggoda, mengajakku tidur, aku harus melawan diriku sendiri, tapi aku harus segera sampai rumah sebelum mata ini benar-benar tertutup, sesekali mata ini tertutup, ya allah..!! segera ku hentikan motorku di tepi jalan, hampir saja, sungai terpanjang di kotaku telah bersiap menerima ku jika aku tak segera menghentikan motor ini, entah apa yang terjadi, mungkin kalau aku memejamkan mata ini sepuluh detik lebih lama, mungkin aku tak dapat membuka mata ini selamanya, mungkin juga basah kuyup jika tepat di masuk kubangan yang dalam. Atau mungkin juga babak belur menabrak pohon asem yang bulatnya 155 cm itu. Ku rebahkan tubuhku yang mulai mengigil di pinggir jalan, bersandar di tebing yang curam itu, cukup aku berhenti, segera ku bangkit dan melanjutkan perjalanan, pikiranku masih kacau, teringat Al berboncengan dengan lelaki lain. perjalananku masih jauh, aku tak boleh melemah, tak boleh kacau, perlahan motorku berjalan, sedikit lebih kencang, berjalan berkelok seperti ular, masih kulawan lelah dalam diriku, mataku meredup, tak dapat kulawan, semakin menyempit, berselimut dinginnya malam ramadhan di pergantian musim, mengantarkan diri ini dalam lelap malam yang panjang..

Pacitan, 24-25/07/2012
Dijumput dari:  http://sastra-indonesia.com/2012/12/di-ujung-jalan/

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Di ujung Jalan"

Posting Komentar